Perbedaan Oli Sintetis dan Oli Mineral
Mana yg lebih baik, oli sintetis ataukah oli mineral? Pertanyaan ini sebagai pertanyaan harus bagi para pemilik sepeda motor yg sangat peduli soal performa sepeda motor milik mereka. Banyak yg belum paham apa itu oli mineral & apa itu oli sintetis. Tidak sedikit juga gara-gara terpengaruhi promosi yg “wah”, menghabiskan dana yang banyak buat membeli oli sintetis, namun performa sepeda motor tidak sebanding dengan harga yg dibayarkan.
Oli mineral diberi nama “mineral” lantaran bahan standar pembuatannya merupakan minyak bumi output tambang (mine/mining). Minyak mentah petroleum melewati beberapa proses misalnya sedimentasi, destilasi, penyaringan, & penambahan zat aditif, buat menerima pelumas oli mineral. Sedimentasi merupakan proses pengendapan buat memisahkan pengotor-pengotor misalnya air, tanah, batu, atau pengotor padat lainnya yg sangat mungkin bercampur bersama minyak mentah. Proses destilasi bertujuan buat memisahkan adonan molekul-molekul hidrokarbon dalam minyak mentah sebagai komponen-komponennya misalnya bensin, solar, avtur, & oli, bersamaan jalan memanaskan minyak mentah tadi sampai suhu 700°F. Dari proses destilasi inilah dihasilkan bagian buat bahan standar pelumas oli yg tentu saja tidak mampu dipakai langsung menjadi pelumas. Bahan standar oli tadi wajib melewati proses filtrasi lagi dan yg terpenting merupakan penambahan zat aditif.
Penambahan zat aditif dilakukan lantaran banyaknya sifat-sifat alami pelumas oli mineral yg justru berbahaya bila dipakai buat pelumas, misalnya menggumpal dalam temperatur rendah, rusak dalam temperatur tinggi, gampang teroksidasi, & lain sebagainya.
Oli sintetis pertama kali dikembangkan pada Jerman semasa perang dunia kesatu, lantaran mereka ingin mengurangi penggunaan minyak bumi yg semakin sulit didapat bagi mereka. Saat itu Jerman dipimpin Dr. Hermann Zorn berhasil menciptakan 3500 jenis campuran ester yg lain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar & pelumas mereka, dengan memakai bahan organik berdasarkan buah-buahan.
Oli sintetis semakin berkembang dalam perang dunia ke 2 pada ketika Amerika Serikat & Jerman sadar bahwa memakai oli sintetis mempunyai kelebihan. Oli sintetis memudahkan pilot menyalakan mesin pesawat tempur mereka sekalipun dalam cuaca yang ekstrim. Sejak masa itulah oli sintetis terus dikembangkan & diproduksi oleh banyak sekali brand pabrikan.
Banyaknya kelebihan oli sintetis menciptakan pengembangan oli tipe ini sebagai sangat intens. Oli sintetis awalnya dibentuk murni berdasarkan bahan-bahan non minyak bumi, tetapi kini telah banyak dikembangkan oli mineral dengan menggunakan grade yg bisa dikatakan menyamai oli sintetis. Oli sintetis disepakati termasuk ke dalam grade API Grup IV bila molekul penyusunnya adalah polyalphaolefin, & dikatakan masuk ke dalam grade API Grup V bila disusun dengan molekul selain polyalphaolefin. Sedangkan oli mineral menggunakan kualitas mendekati atau bahkan menyamai oli sintetis termasuk ke dalam grade API Grup III. Secara global, oli mineral menggunakan API Grup III lalu dikatakan juga menjadi oli sintetis sekalipun pembuatannya memakai bahan standar minyak bumi.
Oli sintetis dipercaya mempunyai lebih banyak kelebihan apabila dibandingkan menggunakan oli mineral. Tetapi demikian keduanya sama-sama mempunyai kelebihan juga kekurangan masing-masing.
Oli sintetis bisa bertahan pada temperatur ekstrim rendah tanpa terbentuk endapan lilin misalnya dalam oli mineral, membuat mesin masih lancar dinyalakan sekalipun dalam temperatur rendah. Kondisi ini sangat cocok buat sepeda motor yg beroperasi pada saat iklim dingin (area pegunungan, negara beriklim sub-tropis ataupun dingin). Oli sintetis pula tidak gampang rusak & menguap dalam temperatur sangat tinggi. Hal ini sangat cocok bagi mesin-mesin putaran tinggi misalnya kendaraan beroda empat juga motor sport, yg menuntut putaran mesin tinggi buat membentuk energi maksimal.
Satu hal yg perlu diperhatikan, meskipun oli sintetis tidak menuntut penggantian oli yg sesering oli mineral, tetapi penggantian oli yg terlambat pula beresiko terhadap mesin itu sendiri. Sebab bagaimanapun, oli sintetis yg dipakai monoton atau bahkan bekerja dalam keadaan kecepatan tinggi niscaya akan rusak seiring berjalannya waktu. Sehingga penggantiannya pun pula wajib dilakukan sesuai petunjuk yg ada.
Dari ulasan singkat pada atas, penggunaan oli sintetis ataupun oli mineral yg sempurna yg sesuai dengan tipe sepeda motor dan keadaan cuaca pada area kendaraan. pembuat motor sport jelas mewajibkan penggunanya buat selalu memakai oli sintetis, lantaran komponen-komponen mesin sport dirancang menggunakan nilai clearence sangat kecil. Molekul-molekul oli sintetis yg sejenis akan menggunakan paripurna masuk ke sela-sela bidang hubungan komponen mesin. Mesin sport pula bisa dipastikan akan selalu bekerja dalam putarah (RPM) tinggi sebagai akibatnya pasti menciptakan mesin sangat panas. Lapisan film yg dibentuk oleh oli sintetis tidak akan gampang rusak lantaran temperatur tinggi. Dua hal inilah yg sebagai alasan primer mengapa mesin motor sport sangat dianjurkan memakai oli sintetis.
Lalu bagaimana bila sepeda motor sehari-hari kita, kita beri pelumas oli sintetik? Tentu tidak ada yg melarang. Tetapi apakah efektif? Pertanyaan inilah yg wajib Anda jawab sendiri. Cara mengetahuinya dengan cara memperhatikan 2 hal, yaitu biaya & performa. Penilaian sebanding & tidaknya memakai oli sintetis menggunakan performa yg Anda cari menuntut percobaan yg sedikit memakan waktu. Maka tidak jarang pemilik sepeda motor balik ke pelumas yg sesuai petunjuk orisinil pabrik, karena sang engineer orisinil pabrik telah mendesain mesin yg Anda gunakan sekaligus menggunakan pelumas yg digunakan.
Referensi:
- Wikipedia: Synthetic Oil
- Wikipedia: Lubricant
- Synthetic vs Mineral Oil
- How Lubricating Oil is Made
- Basic of Synthetic Oil Technology
Komentar
Posting Komentar